Inilah Nasib Program Mobil Murah Indonesia Setelah 5 Tahun
- Bang Joni
- Jul 13, 2017
- 2 min read

Program mobil murah Indonesia yang dikenal sebagai LCGC (Low Cost Green Car) kembali menjadi pembicaraan masyarakat. Kabar yang beredar, bahwa kebijakan tersebut hanya akan berlaku dalam kurun waktu 5 tahun saja. Benarkah demikian?
Kebijakan mobil murah Indonesia ini dikeluarkan melalui PP Nomor 41 Tahun 2013 tentang Program Kendaraan Bermotor Hemat Bahan Bakar dan Harga Terjangkau. Pada dasarnya program ini dilakukan melalui pemberian insentif dalam hal perpajakan atas varian mobil tertentu dengan persyaratan yang ditetapkan oleh Pemerintah. Sehingga bisa dikatakan melalui program ini, mobil murah Indonesia LCGC seolah mendapatkan previlege atau keistimewaan dalam pelaksanaannya.
Dalam peraturan pemerintah dimaksud, mobil murah LCGC diberi insentif berupa pembebasan PPnBM sebesar 10 persen untuk tiap-tiap produk yang memenuhi standar yaitu konsumsi bahan bakar 20 km/l. Tak hanya itu, setiap model LCGC juga harus dirakit di Indonesia dan memiliki tingkat kandungan lokal baik mesin dan transmisi sebesar minimal 80 persen.
Sedangkan untuk LCE (Low Carbon Emission) telah disiapkan insentif yaitu diskon PPnBM mulai dari 25 sampai 75 persen. Tergantung dari berapa hemat konsumsi bahan bakar yang mampu didapatkan, yaitu berkisar antara 20-28 km/l. Dan rencananya, program mobil murah Indonesia ini diproyeksikan akan berhenti pada tahun 2019 yang kemudian dilanjutkan dengan program mobil murah LCE. Hingga kini, proses pengkajian tengah dilakukan oleh pemerintah sebelum nantinya dipublikasikan.
Namun ternyata, keistimewaan mobil murah Indonesia model LCGC tersebut oleh Pemerintah direncanakan hanya akan berjalan dalam 5 tahun semenjak diberlakukan. I Gusti Putu Suryawirawan, Direktur Jendral Industri Logam Mesin Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin menyatakan bahwa berdasarkan roadmap yang telah dirancang oleh Pemerintah, program LCGC diproyeksikan hanya akan berlaku dalam jangka waktu 5 tahun ke depan. Yang menarik, ada wacana untuk percepatan terhadap rencana tersebut. Dan wacana ini masih taraf awal, sehingga masih ada pula kemungkinan program ini bisa juga justru diperpanjang.
Perpanjangan bisa diberlakukan apabila nantinya ada peningkatan di dalam spesifikasi mobil murah Indonesia sehingga menjadi produk yang lebih hemat energi. Standar emisi ideal adalah Euro 4, padahal Indonesia rata-rata masih menggunakan standar Euro 2. Hal inilah yang akan menjadi pertimbangan apakah insentif program ini akan tetap dilanjutkan atau tidak, apabila tak ada peningkatan spesifikasi menjadi lebih hemat energi dan ramah lingkungan.